29 Mei 2008
Jakarta – Pengamat politik Indra J Piliang menyatakan bahwa faktor Sri Sultan HB X bisa menjadi penentu kemenangan kandidat yang memasangkannya. Sedangkan Jusuf Kalla justru menjadi faktor sebaliknya yang akan merusak keterpilihan pasangannya, siapa pun dia.
Dalam publikasi hasil survei Lembaga Riset Indonesia (LRI) tentang popularitas pemimpin nasional menjelang pemilu 2009 di Jakarta, Kamis, Jusuf Kalla hanya mendapat 3,13 persen untuk calon presiden di bawah Susilo Bambang Yudhoyono yang menempati posisi teratas dengan 35,6 persen, Megawati mendapatkan 25,51 persen, Sri Sultan Hamengku Buwono X mendapat 17,61 persen serta Wiranto mendapatkan 8,76 persen.
Demikian pula untuk calon wakil presiden, sebanyak 1.537 responden yang disurvei di 33 provinsi, menempatkan Jusuf Kalla pada posisi ketiga di bawah Hidayat Nur Wahid dan Sri Sultan HB X.
Survei dengan margin kesalahan tiga persen dan tingkat kepercayaan 95 persen yang dilakukan pada pertengahan Mei 2008 tersebut menempatkan Hidayat Nur Wahid sebagai calon wakil presiden favorit dengan 29,67 persen dan disusul Sri Sultan HB X dengan 27,71 persen sementara Jusuf Kalla 12,71 persen.
Responden, kata Direktur Eksekutif LRI Johan Silalahi menempatkan sejumlah nama lain yang juga berprospek sebagai calon wakil presiden yaitu Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto dengan 7,09 persen, Din Syamsuddin dengan 6,93 persen, Akbar Tandjung dengan 4,48 persen, Panglima TNI Jenderal (TNI) Djoko Santoso dengan 3,75 persen.
“Keberadaan Hidayat Nur Wahid dan Sri Sultan mengungguli Jusuf Kalla sebagai cawapres menjadi menarik untuk dicermati,” katanya.
Popularitas
Data yang diperoleh survei menjelaskan bahwa Jusuf Kalla mempunyai popularitas yang tinggi baik sebagai Ketua Umum Partai Golkar maupun Wakil Presiden yang cukup dikenal masyarakat luas dengan persentase 89 persen.
“Sebenarnya popularitas Jusuf Kalla tinggi dan tidak ada yang tidak tahu ia adalah Wapres. Tapi ketika responden ditanya apakah akan memilih dia baik sebagai capres maupun cawapres, ternyata persentasenya rendah,” kata Johan.
Lebih lanjut Johan berargumentasi bahwa rakyat sudah semakin cerdas melihat untuk pemerintahan ini sudah ada pembagian tugas antara Presiden dan Wakil Presiden dan ekonomi menjadi kewenangan Wapres.
Gejolak ekonomi dan kenaikan harga BBM menjadi salah satu sebab mengapa tingkat elektabilitas (keterpilihan-red) Jusuf Kalla menjadi rendah.
Selain itu, menurut dia , dari sisi komunikasi politik figur Jusuf Kalla ternyata hanya disukai oleh level elit politik dan bukan oleh rakyat.
Pada bagian lain survei, untuk prediksi pasangan capres dan cawapres persentase keterpilihan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla ternyata masih di bawah kombinasi Susilo Bambang Yudhoyono – Hidayat Nur Wahid atau Megawati-Sri Sultan HB X yang masing-masing 15,12 persen dan 14,74 persen. Sedangkan Yudhoyono-Kalla diprediksi hanya meraih dukungan 10,75 persen atau sedikit diatas kombinasi Yudhoyono-Sri Sultan HB X sebesar 6,14 persen.
Mengenai kriteria pemimpin yang diinginkan rakyat, 84 persen responden menempatkan kriteria jujur sebagai pilihan utama di samping ketegasan (71 persen), dapat dipercaya (62 persen), konsisten (44 persen) dan mempunyai integritas (28 persen). (kc)
http://gp-ansor.org/?p=4965