26 Maret 2008
JAKARTA – Tingginya keinginan publik terhadap calon presiden alternatif menggambarkan bahwa rakyat memang sudah bosan dengan tokoh-tokoh lama, karena tokoh-tokoh itu pernah memimpin dan tidak mampu membawa perubahan berarti bagi nasib rakyat.
”Rakyat memang bosan dengan pemimpin lama yang memang terbukti tidak mampu memperbaiki nasib rakyat, karena itu mereka menghendaki adanya calon alternatif,” tegas peneliti senior Soegeng Saryadi Syndicated (SSS) FS Swantoro kepada Wawasan di Jakarta, Rabu (26/3) pagi tadi.
Swantoro dimintai pendapatnya terkait hasil survei LSN (Lembaga Survei Nasional) yang menyimpulkan mayoritas responden menghendaki calon alternatif dalam pemilu Presiden 2009 mendatang.
Hasil survei itu juga menyebutkan, Sri Sultan Hamengku Buwono X menempati urutan pertama calon alternatif yang dikehendaki publik untuk menjadi presiden mendatang.
Menurut Swantoro, hasil survei itu sangat wajar karena kenyataannya rakyat sudah sangat nyata merasakan kepemimpinan mereka dan tidak merasakan adanya kemajuan yang berarti.
”Rakyat punya pengalaman dipimpin Gus Dur, dipimpin Megawati Soekarnoputri dan sekarang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi tidak membawa perubahan berarti bagi nasib rakyat. Karena itu mereka menghendaki calon alternatif,” kata Swantoro.
Karena itu, tambahnya, wajar kalau kemudian Sri Sultan menempati urutan pertama karena Sultan merupakan tokoh reformasi yang relatif bersih dan belum pernah memimpin, sehinga menjadi harapan untuk bisa membawa kemajuan bangsa. ”Kalau yang lama-lama kan sudah pernah memimpin dan hasilnya begini saja, sehingga rakyat bosan, kalau calon alternatif bisa memberi harapan pada rakyat,” katanya.
Swantoro juga tidak melihat adanya perbedaan di mata rakyat apakah calon itu harus dari militer atau sipil, tidak ada yang lebih favorit apakah sipil atau mantan militer, sehingga Sultan pun bisa diterima publik.
Namun, tambahnya, kesulitan akan dihadapi oleh calon alternatif menyangkut kendaraan politiknya, karena hampir dipastikan pimpinan partai politik besar tidak akan rela memberikan kepada calon alternatif. “Hampir dipastikan kalau PDIP ya pasti mengusung Megawati, PKB pasti mengusung Gus Dur,” katanya.
Karena itu, harapnya, calon alternatif seperti Sultan mulai sekarang sudah harus bersinergi dengan partai menengah dan partai-partai kecil sebagai kendaraan politiknya, meski harus mengeluarkan biaya lumayan besar. “Karena ibarat naik taksi, Sultan harus membayar argonya,” katanya.
Namun demikian, Swantoro melihat bahwa Sultan memiliki peluang menjadi calon alternatif yang memenangi kompetisi dalam pilpres mendatang. “Tetapi Sultan sendiri mulai sekarang harus menunjukkan kepada publik bahwa dia itu tokoh berwawasan nasional, dia harus sering tampil dengan wawasan-wawasannya, sehingga publik bisa menilai,” katanya.
Sebagaimana diwartakan, LSN (Lembaga Survei Nasional) kemarin mengumumkan hasil surveinya. Survei yang bertajuk “Mancari Calon Presiden Alter-natif Pasca-SBY-JK (Eksplanasi Dukungan terhadap Para Tokoh Alternatif Menghadapi Pemilu Presiden 2009)” itu digelar di 33 provinsi dengan 2.178 res-ponden. Metode pengambilan sampelnya menggunakan teknik multistage random sampling.
Direktur Eksekutif LSN, Umar S Bakry menjelaskan, 44,9 persen pemilih Indonesia menghendaki agar tokoh-tokoh nasional yang sudah maju dalam Pilpres 2004 untuk tidak lagi mencalonkan kembali, namun 37,4 persen publik tidak menghendaki pembatasan tersebut. Artinya, mayoritas menghendaki calon alternatif.
Menurut Umar S Bakry, jika Pilpres hanya diikuti calon yang belum pernah maju dalam Pilpres 2004, maka Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi favorit dengan perolehan suara 14,7 persen disusul Prabowo Subiyanto (7,7), Sutiyoso (5,4), Hidayat Nurwahid (4,2), Akbar Tandjung (3,8), Yusril Ihza Mahendra (2,5), Surya Paloh (2,3), Din Syamsudin 1,1), Fadel Muhammad (1,0), Sutrisno Bachir (0,4), Ryamizard Ryacudu (0,4) sementara yang belum menentukan pilihan sebesar 51,6 persen.
Dijelaskan pula, dari hasil survei tersebut mayoritas responden juga mengingkan kandidat presiden berasal dari militer (67,6 persen), berpendidikan S1 atau sederajat (73,7 persen) berasal dari suku Jawa (69,9) tegas dalam mengambil keputusan (88,8) dan merakyat (95,6).
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=20868&Itemid=28
Selama calon presiden itu tidak hanya omong kosong saja saya akan dukung 100% tapi janji kadang bisa membutakan pemilih jadi kita harus lebih bisa cermat memeilih capres kita kedepan , kita harus ingat apa yang sudah terjadi hanya karna kita terbuay dengan janji..
pokoknya capres tuh kalo bisa sudah punya nilai plus dalam memimpin satu daerah dengan kemajuan yang pesat..begitu kira-kira pendapat saya.