YOGYAKARTA – Berbagai suku dan budaya Indonesia dari Sabang sampai Meraoke berada di DIY. Sehingga dengan banyaknya suku dan budaya ini, DIY bisa disebut sebagai miniaturnya Indonesia. Namun, tentunya dengan hal ini sangat riskan terhadap gesekan dan benturan. Dimana nantinya akan menyebabkan perpecahan dan konflik yang berkepanjangan. Jadi, harus ada satu instrumen untuk mengakomadasinya. Yaitu, Bhinneka Tunggal Ika.
“Untuk mempersatukan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukanlah pekerjaan yang mudah. Kita harus bisa hidup rukun, damai dan penuh toleransi dalam kemajemukan, dan keberbedaan, sebab kekuatan kita disitu,” tegas Gubernur DIY pada Silaturahmi Pemuda dan Mahasiswa DIY Dalam Perspektif Wawasan Kebangsaan yang Aman dan Tertib, di Gedung Radyosuyoso, Komplek Gubernuran, Kepatihan Jalan Malioboro, Yogyakarta, Rabu (5/2/2008).
Untuk itu, Sri Sultan HB X mengajak elemen pemuda di DIY untuk selalau memupuk rasa solidaritas dan ikatan sosial serta rasa persatuan dan kesatuan dalam kemajemukan DIY. Sehingga harapan DIY sebagai kota pendidikan yang aman, tertib dan damai bisa terwujudkan.
Apalagi dengan mengingatkan bangsa ini dilahirkan menjadi bangsa yang beragam. Sehingga dalam perkembangan sejarah, banyak keragaman yang muncul, tetapi sekali lagi kuncinya satu “we have to be more united” dimana kita harus lebih bersatu sebagaimana tercermin di dalam masyarakat DIY, yang merupakan miniatur Indonesia. Serta sesuai dengan budayanya yang santun, damai, tenteram, tertib, disiplin dan aman didalam kerangka NKRI.
Dalam kesempatan itu juga Sri Sultan juga mengharapkan kepada generasi muda untuk meningkatkan dan memperkuat kemampuannya dalam menghadapi tantangan global. Sebab semuanya harus datang dari kalangan generasi muda itu sendiri. Karena dalam sistem ekonomi dunia saat ini, negara-negara maju yang hanya berjumlah 20% dari jumlah negara di dunia menikmati 80% kekayaan alam yang ada di dunia ini. Sisanya diperebutkan oleh 80% negara-negara miskin dan berkembang.
Lebih lanjut Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono mengemukakan, tantangan dunia global saat ini semakin bertambah berat terutama dikaitkan dengan kondisi keamanan secara umum. Tantangan-tantangan seperti inilah yang harus direspon oleh kaum muda untuk mempersiapkan diri. Karena generasi muda merupakan bagian dari perkembangan dunia global. Sebab menurut Gubernur, sejarah dunia akan ditentukan oleh sejarah generasi mudanya.
Jadi, salah satu agenda terpenting bagai generasi muda bangsa adalah bagaimana cara efektif dalam ikut memberantas korupsi di Negara Indonesia, mengurangi angka kemiskinan, serta memperluas lapangan kerja agar pengangguran semakin berkurang.
“Sudah saatnya bagi generasi muda terdidik untuk berusaha sadar serta introspeksi. Apa yang telah disumbangkan untuk bangsa dan negarea yang membesarkan serta mencerdaskannya. Kinilah saatnya para pemuda mengalihkan energi menuju kepada kemandirian, agar Indonesia kembali subur dan makmur sepertii harapan kita bersama,” kata Gubernur.
Acara ini diikuti sekitar 200 orang dari berbagai elemen pemuda, baik mahasiswa dan ormas pemuda yang ada di DIY. Hadir dalam Silaturahmi Pemuda dan Mahasiswa DIY dalam Perspektif Wawasan Kebangsaan yang aman dan tertib antara lain Kapolda DIY Brigjen Pol AR Harry Anwar dan Kepala Dinas intansi terkait.(Priyo Setyawan/Sindo/ism)
sumber :www.pancasilakita.net/web/content/sultan-hb-x-serukan-bhinneka-tunggal-ika
